Menu
0 Comments

Cerita Patung Merah Bagian kedua

Perjalanan yang jauh dan melelahkan, selain harus berhadapan dengan para copet dan penipu yang berkeliaran di kapal dan bandar. Aku tahu, bapak tidak tertarik dengan urusanurusan adat. Bapak seorang yang berpikiran rasional dan memilih merantau sebagai cara untuk menjalani hidup.

Sebagian dari sifat dan cara berpikir bapak itu menurun padaku, meskipun aku tak begitu akur dengan dia. Di masa mudanya, bapak suka bermain sandiwara. Biasanya saat perayaan Paskah, bapak akan bertindak sebagai sutradara dalam pementasan merayakan kenaikan Isa ke surga.

Meskipun bukan seorang Kristen, bapak sering diundang untuk mengikuti pementasan dengan pelakon para pemuda anggota jemaat. Aku tidak pernah melihat bapak naik panggung, tapi dari caranya bicara serta gestur tubuhnya aku bisa merasakan jejak-jejak seorang seniman panggung.

baca juga : http://sniki.org/rajawali-indo-pelopor-penyedia-genset-berkualitas/

“Kita perlu penghasilan tetap supaya bisa hidup layak. Kalau Bapak tidak berhenti main sandiwara, mungkin kamu tidak akan ada. Kalaupun ada, paling-paling cuma jadi nelayan atau gembala. Tidak bisa kuliah dan mengerti teknologi seperti sekarang.

Meski kuliahmu sendiri tidak beres, tapi setidaknya kamu tidak menghabiskan usia di kampung ini,” ucap bapak. Kami sepakat untuk diam-diam menjauh dari keramaian upacara itu. Duduk di tanah yang agak tinggi dan tersembunyi, melihat dari kejauhan upacara yang terus berlangsung.

Dari tempat tinggi ini, kami bisa melihat pemandangan di kejauhan. Laut tenang yang membentuk garis horizon, punuk-punuk bukit, perumahan di kampungkampung, serta bangunanbangunan perkantoran. Awanawan domba mengapung di langit biru seperti gumpalan-gumpalan kapas. “Kamu tahu, kalau pamanmu meninggal, Bapak yang harus menggantikannya sebagai Kepala Kaum,” ujar bapak sambil menatapku.

Pandangannya seakan-akan mewakili kelanjutan kalimat itu; setelah bapak akulah yang akan menjadi Kepala Kaum. Ayi Kaka punya dua anak dari dua istri. Dari istri pertama, dia mendapat seorang anak yang tak mungkin menjadi Kepala Kaum lantaran ia adalah perempuan.

Dari istri kedua, dia memang mendapat seorang anak laki-laki, tapi sejak remaja anak itu hilang entah ke mana. Benar-benar hilang bagai diisap angkasa. Beberapa orang menduga anak laki-laki itu memang diambil oleh dewa-dewa. Sebagian lain menduga anak itu dijadikan tumbal untuk kesaktian Ayi Kaka.

Tapi aku pikir anak itu mungkin sudah mati tenggelam di laut. Kedua istri Ayi Kaka sudah meninggal pula, sedangkan anak perempuannya menikah dan sampai sekarang masih tinggal di kampung ini. “Waktu dulu Paman terkena kasus penipuan, pasti Bapak yang membantunya agar lepas dari hukuman, iya kan?” tanyaku.

Bapak tidak menjawab. Kami berdua menatap ke bawah, ke arah tempat berlangsungnya upacara. Lingkaran orang-orang itu sudah terlepas. Sekelompok anak muda pilihan yang disebut Kelompok Burung Hitam bernyanyi dan memainkan alat musik. Salah seorang di antaranya meneriakkan bunyi-bunyi burung liar. Rambut pemuda itu kribo, dia melompatlompat seperti kesetanan.